Shafa & Marwah

Bukit Shafa dan Marwah ialah dua buah bukit yang berada dekat dengan Ka’bah (Baitullah). Bukit Shafa dan Marwah ini mempunyai histori yang penting di dunia Islam, terutamanya dalam penerapan ibadah haji dan umrah. Bukit Shafa dan Marwah yang memiliki jarak kurang lebih 450 mtr. itu, jadi satu dari rukun haji dan umrah, yaitu mengerjakan Sa’i.

Ibadah Sa’i ialah berjalan kaki serta berlari-lari kecil antara ke-2 bukit itu, sekitar 7x (bolak-balik) dari Bukit Shafa ke Bukit Marwah dan kebalikannya. Dan, saat melewati Bathnul Waadi, yakni teritori yang berada antara Bukit Shafa dan Marwah (sekarang ini ditandai dengan lampu neon warna hijau), beberapa jemaah pria disunahkan untuk berlari-lari kecil, sedang untuk jamaah wanita berjalan cepat. Ibadah Sa’i bisa dilaksanakan pada kondisi tidak berwudhu dan wanita yang tiba haid atau nifas.

Sejarah Shafa & Marwah

Jauh saat sebelum perintah beribadah haji dikerjakan, Bukit Shafa dan Marwah sudah jadi saksi peristiwa perjuangan seorang ibu dalam melindungi anaknya dari kehausan beberapa puluh masa yang lalu.

Bukit Shafa dan Marwah tidak bisa dipisah dengan cerita istri Nabi Ibrahim Alaihissalam (AS), yakni Hajar dan putranya Ismail AS. Sudah diketahui, Ibrahim AS mempunyai 2 orang istri, yaitu Sarah dan Hajar. Tetapi, saat Hajar mempunyai putra (Ismail), muncul kecemburuan pada diri Sarah. Dan, dia minta ke Ibrahim supaya di antara dianya dan Hajar segera dipisah. Sarah tidak ingin hidup bersama pada sebuah negeri dengan Hajar. Saat itu, Nabi Ibrahim tinggal di Hebron, Palestina.

Selanjutnya, turunlah wahyu ke Nabi Ibrahim agar Dia bersama dengan anak dan istrinya (Ismail dan Hajar) ke Makkah. Di saat itu, Makkah belum didiami manusia, cuman sebagai lembah pasir dan bukit-bukit yang tandus dan tidak ada air. Pada tempat berikut, ke-2 nya ditinggal Ibrahim.

Hajar bersedih saat ditinggal begitu saja di lokasi yang tidak ada orang itu. Dia lalu menanyakan ke Ibrahim.

“Mau ke mana kamu Ibrahim?”

“Sampai hatikah kamu tinggalkan kami berdua di lokasi yang sunyi dan tandus ini?”

Pertanyaan itu berkali-kali, tapi Nabi Ibrahim tidak menjawab sepatah kata juga.

Hajar menanyakan kembali, “Apakah ini perintah dari Allah?”

Baru Nabi Ibrahim menjawab, “ya.”

Dengar jawaban suaminya yang singkat itu, Hajar senang dan hatinya juga jadi damai. Dia yakin hidupnya pasti terjaga meskipun di lokasi yang sunyi, tidak ada manusia dan tidak ada semua keringanan. Dan saat itu, Nabi Ismail masih menyusu.

Kecintaan Ibrahim pada Allah dan mengikuti perintah-Nya, melewati segala hal. Dia juga memasrahkan semua ke Allah dan berdoa, ”Ya Tuhan kami, sebenarnya saya sudah tempatkan beberapa turunanku di lembah yang tidak memiliki tanam-tanaman di dekat rumah Kamu (Baitullah) yang disegani. Ya Tuhan kami, (yang begitu) supaya mereka membangun shalat. Karena itu, jadikanlah hati beberapa manusia condong ke mereka dan berikan rejekilah mereka dari buah-buahan, semoga mereka mengucapkan syukur.” (QS Ibrahim ayat 37).

Saat Ismail dan ibunya hanya berdua dan kehabisan air untuk minum di lembah pasir dan bukit yang tandus, Hajar pergi mencari air pulang pergi dari Bukit Shafa ke Bukit Marwah sejumlah 7x.

Waktu kali ke-7 (terakhir), saat sampai di Marwah, mendadak terdengar oleh Hajar suara yang mengagetkan, lalu dia ke arah suara itu. Alangkah kagetnya, jika suara itu adalah suara air memancar dari dalam tanah dengan derasnya di bawah telapak kaki Ismail. Air itu ialah air zam-zam.

Di posisi ini juga, Hajar dengar suara malaikat Jibril dan berbicara padanya, “Tidak boleh cemas, di sini Baitullah (rumah Allah) dan anak ini (Ismail) dan ayahnya akan membangun rumah itu kelak. Allah tidak menyia-nyiakan hamba-Nya.”